Minggu, 22 Februari 2009

TEORI BEHAVIORISTIK


Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS pada tahun 1913, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad sebelumnya.

Para ahli behavioristik kurang memiliki perhatian terhadap struktur kepribadian internal, seperti ID, ego dan superegonya freud, karena struktur seperti ini tadak dapat diobservasi.Mereka memandang kepribadian individu sebagai “koleksi kecenderungan respon yang terkait denagn berbagai situasi rangsanagan yang beragam”. Walupun para behavioris kurang memiliki perhatian terhadap struktur kepribadian, tetapi mereka mempunyai perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan kepribadian. Sebagian behavioris, seperti Dollar & Miller (1950) menyetujui pendapat freud tentang pentingnya pengalaman masa kecil, mereka berpendapat bahwa kepribadian di bentuk melalui proses evolusi. Tokoh-tokoh dalam teori Behavioristik tersebut adalah:

1. Pembiasaan Klasikal : Ivan Petrovich Pavlo (1849-1936)

Pembiasaan klasikal ( Classical Conditioning ) merupakan tipe belajar yang menekankan pada stimulus netral memerlukan kapasitas untuk merangsang respon yang secara orisinil terangsang oleh stimulus yang lain. Proses ini dinamakan juga Respondent conditioning yang pertama kali di kenalkan oleh ivan pavlov pada tahun 1903. Dia meneliti tentang pencernaan anjing, ia juga menegetahui bahwa anjing dapat dilatih untuk menegeluarkan air liur untuk merespon bunyi bel. Pada awalnya anjing akan menegeluarkan air liunya jika di beri daging, dan setiap akan memberi makan anjing tersebut pavlov membunyikan bel tersebut lama kelamaan hanya dengan mendengarkan bunyi bel tersebut anjing kan mengeluarkan air liurnya. Peran classical conditioning memberikan kontribusi terhadap pembentukan respon-respon emosional, seperti rasa takut, cemas atau phobia.

2. Pengkondidian Operan: Skinner

Burrhus federic Skinner lahir pada tahun 1904 di Susquehanna Pennsylvania dan meninggal pada tahun 1990. Skinner adalah seorang ahli psikilogi Amerika yangbanyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di universitas Harvard. Pilihanya terhadap pendekatan behaviorisme mengarahkanya untuk menolak kekuatan-kekuatanmental dan emosional. Sinner membagi tingkah laku kedalam dua tipe yaitu responden dan operan, tingkah laku responden adalah tingkah laku yang dibagkitkan atau dirnagsang oleh stimulus tertentu. Tingkah laku reponden ini wujudnya adalah refleks dan contohnya adalah mata yang berkedip karena terkena debu atau menarik tangan saat terkena sengatan listrik, tingkah laku ini bergantung pad reinforcement dab secara langsung merespon stimulus yang bersifat fisik. Sedanagkan tingkah laku operan adalah respon atau tingkah laku yang bersifat spontan (sukarela) tanpa stimulus yang mendorongnya secara langsung.

Menurut Skinner ”reiforcement” dapat terjadi dalm dua cara yaitu positif dan negatif. Reiforcement [ositif ini sinonim dengan ”reward” (penghargaan), respon-respon diikuti oleh hasil yang menyenagkan diperkuat cenderung menjadi pola kebiasaan bertingkah laku. Sementara reinforcement negatif ketika respon diperkuat (sering dilakuan), karena diikuti oleh stimulus yang tidak menyenagkan. Reiforcement ini memainkan peran dalam perkembangan kecenderungan-kecenderungan untuk menolak (menghindar).

3. Teori Belajar Sosial: Bandura

Albert Bandura adalah seornag behavioris yang menambahkan aspek kognitif terhadap behaviorisme sejak tahun 1960. Pengembanagn teorinya merujuk kepada pandangan Skinner, meskipun begitu Bandura memiliki pendapat tersendiri dalam kaitanya dengan hakikat manusia dan kepribadian. Asumsinya adalah sebagai berikut.

a. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang sadar, berpikir, merasa dan mengatur tingkah lakunya sendiri.

b. Kepribadian berkembang dalam konteks sosial, interaksi, antara satu sama lainya.

Teori belajar bandura tentang kepribadian di dasarkan pada formula bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil interaksi timbal balik yang terus menerus antara faktor-faktor penentu yaitu faktor internal (kognisi, persepsi, dan faktor lainnya yang mempengaruhi kegiatan manusia) dan faktor eksternal (lingkungan). Proses ini disebut reciprocal Determine.

Teori kognitif sosial memandang proses sosial dan kognitif sebagai sesuatu yang penting dalam memahami emosi, motivasi dan tindakan manusia.

CARA BELAJAR

Dalam teori kognitif sosial terdapat dua cara belajar, yaitu:

1. Observational Learning

Belajar merupakan aktivitas yang mencakup pemrosesan informasi. Kekuatan modelling terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi proses tersebut. Observational learning memerlukan empat macam proses utama:

1) attentional processes. Dalam proses ini, Individu yang belajar melalui modeling dituntut untuk memperhatikan dan mempersepsi perilaku model secara tepat. Tingkat keberhasilan belajar itu ditentukan oleh karakteristik model maupun karakteristik pengamat itu sendiri. Karakteristik model yang merupakan variabel penentu tingkat perhatian itu mencakup frekuensi kehadirannya, kejelasannya, daya tarik personalnya, dan nilai fungsional perilaku model itu. Karakteristik pengamat yang penting untuk proses perhatian adalah kapasitas sensorisnya, tingkat ketertarikannya, kebiasaan persepsinya, dan reinforcement masa lalunya.

2) Retention Processes. Agar proses ini berjalan efektif, maka modelling harus disimpan dalam ingatan. Menyimpan informasi secara imaginal atau mengkodekan peristiwa model ke dalam simbol‑simbol verbal yang mudah dipergunakan merupakan cara-cara yang bisa digunakan dalam proses retensi. Materi yang bermakna bagi pengamat dan menambah pengalaman sebelumnya akan lebih mudah diingat. membayangkan perilaku model atau dengan mempraktekkannya merupakan cara lain untuk mengingat dalam tahapan ini. Keterampilan dan struktur kognitif pengamat dapat memperkuat retensi. Motivasi untuk belajar juga berperan dalam retensi, meskipun insentif lebih bersifat fasilitatif daripada keharusan.

3) Proses produksi. Pada tahap tertentu, gambaran simbolik tentang perilaku model mungkin perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang efektif. Pengamat memerlukan gambaran kognitif yang akurat mengenai perilaku model untuk dibandingkan dengan umpan balik sensoris dari perbuatannya. Modelling korektif merupakan cara yang efektif untuk memberikan umpan balik bila pengamat melakukan kinerja yang tidak tepat.Variabel pengamat yang mempengaruhi reproduksi perilaku mencakup kapasitas fisiknya, apakah perbendaharaan responnya sudah mencakup komponen‑komponen respon yang diperlukan, dan kemampuannya untuk melakukan penyesuaian korektif bila mencobakan perilaku baru.

4) Proses motivasi. Motivasi merupakan hal penting yang mendukung operasionalisasi individu untuk apa yang telah dipelajarinya. Bila individu tersebut memiliki motivasi yang besar maka besar kemungkinan ia mempraktekan apa yang telah ia pelajari, begitupula sebaliknya.

1.1 Modelling untuk Proses Berpikir

Melalui pengamatan terhadap model, seseorang dapat belajar keterampilan berpikir. Akan tetapi, sering kali proses berpikir yang tersirat tidak terungkapkan secara memadai oleh tindakan model. Misalnya, seorang model dapat memecahkan suatu masalah secara kognitif, tetapi pengamat hanya melihat hasil tindakannya tanpa memahami proses berpikir yang menghasilkan tindakan tersebut. Satu pendekatan untuk mempelajari keterampilan kognitif adalah dengan meminta model mememaparkan hal yang dipikirkannya pada saat sedang melaksanakan kegiatan untuk mengatasi masalahnya. Dengan menggabungkan Modelling verbal dengan modelling non‑verbal maka kemampuan modelling non‑verbal untuk memperoleh dan mempertahankan perhatian, dan keefektifan perilaku fisik untuk memberikan makna tambahan pada proses kognitif. Keterampilan kognitif pengamat akan semakin mengalami peningkatan bila model mendemonstrasikan tindakan dan proses berpikirnya sekaligus, bukan hanya mendemonstrasikan tindakannya saja.

1.2 Peranan Reinforcement

Pandangan kognitif sosial merupakan pandangan belajar melalui pengamatan yang tidak selalu memerlukan imbalan ikstrinsik. Belajar seperti ini terjadi melalui pemrosesan kognitif pada saat dan sebelum pengamat melakukan suatu respon. Dengan model operant conditioning dari Skinner, yang hampir sama dengan belajar melalui pengamatan ini, dianggap berhasil apabila respon yang sesuai dengan tindakan model diberi reinforcement, respon yang tidak sesuai dihukum atau tidak diberi imbalan, dan perilaku orang lain menjadi stimulus bagi respon yang cocok. Akan tetapi, penjelasan Skinner tersebut mengandung beberapa kekurangan. Pengamat mungkin tidak akan melakukan perilaku model dalam setting yang sama dengan ketika perilaku itu dicontohkan. Baik pengamat maupun model mungkin tidak akan memperoleh reinforcement. Perilaku model mungkin terjadi lagi beberapa hari atau bahkan beberapa minggu kemudian. Maka model operant tidak dapat menjelaskan bagaimana struktur respon baru itu dipelajari melalui pengamatan. Peranan utama insentif dalam observational learning adalah sebelum, bukan setelah modelling. Misalnya, perhatian pengamat dapat meningkat dengan antisipasi imbalan dari penggunaan perilaku model. Lebih jauh, imbalan yang diantisipasi itu dapat memotivasinya untuk mensimbolisasikan dan berlatih menggunakan kegiatan model. Insentif itu lebih bersifat fasilitatif daripada keharusan.